Jadi Ibu Rumah Tangga atau Tetap Bekerja

145073799

Foto: gettyimages.com

Banyak perempuan yang tinggal di kota besar menunjukkan eksistensi dirinya melalui karir profesional. Pendapatan pribadi yang diterima setiap bulan merupakan bentuk kebanggaan sekaligus identitas sebagai individu yang mandiri. Namun hal ini sering berbenturan dengan peran lain ketika perempuan terikat dalam institusi pernikahan. Kewajiban pun berlipat ganda. Terlebih jika sudah memiliki keturunan. Tak sedikit perempuan mengaku mengalami dilema ketika dihadapkan kepada dua pilihan besar, yakni mengabdi sebagai istri dan ibu di dalam rumah, atau tetap bekerja demi memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Prof. Dr. Ayub Sani Ibrahim SpKJ (K), penasihat Parents Indonesia, mengatakan, ada empat alasan paling utama saat seorang perempuan akhirnya memutuskan untuk berhenti bekerja. “Pertama adalah jumlah anak. Semakin banyak anak, biasanya kemungkinan si ibu berhenti bekerja menjadi semakin besar. Kedua adalah tidak ada pengasuh atau orang yang bisa dimintai tolong untuk mengasuh si anak. Ketiga adalah permintaan suami, dan terakhir adanya dukungan keuangan yang cukup, yaitu dari pihak suami.”

Vira, 31 tahun, adalah salah satu contoh perempuan yang memilih untuk mengorbankan identitas profesionalnya di kantor demi turun tangan langsung dalam pengasuhan anak. “Saya sempat bekerja 8 tahun sebelum akhirnya memutuskan untuk berhenti total. Saat itu, putra pertama saya sudah berusia 2,5 tahun dan mulai masuk playgroup. Kami tidak punya pengasuh. Selain itu, suami pun minta diurusi. Akhirnya saya putuskan untuk berhenti.”

Tentunya tidak sedikit perempuan seperti Vira yang bersedia berkorban demi memenuhi tugas mulia sebagai seorang ibu. Tapi keputusan ini tetaplah tidak mudah. Ketika seorang perempuan bekerja yang telah berumah tangga memutuskan berhenti berkarir, itu berarti ada pendapatan dalam rumah tangga yang hilang. Selain itu, dibutuhkan kesiapan mental dalam menghadapi transisi besar, yakni dari lingkup dunia kerja menjadi dunia rumah tangga.

Sudah Mantapkah Mental Anda?

Pada kenyataannya, tidaklah mudah bagi seorang perempuan yang telah lama bekerja untuk begitu saja menjadi ibu rumah tangga. Patut diakui, lingkup dunia rumah tangga jauh lebih sempit dibandingkan lingkup dunia profesional. Di dunia kerja, seseorang dimungkinkan untuk berinteraksi dengan begitu banyak orang dengan beragam latar belakang. Sementara dunia rumah tangga tidaklah demikian. Si ibu umumnya hanya berinteraksi dengan anak, asisten rumah tangga, atau tetangga.

“Seorang ibu bekerja yang akan memutuskan untuk menjadi ibu rumah tangga bisa diibaratkan seperti orang yang nanar. Maksudnya, jika mentalnya tidak benar-benar siap, dia bisa bingung, frustasi. Sudah seperti orang yang mau pingsan saja,” kata Ayub.

Ketika seorang perempuan bekerja memutuskan untuk total menjadi ibu rumah tangga, maka dia akan menghadapi suatu perubahan drastis dalam hidup. “Ruang publiknya saja sudah berbeda. Belum lagi merasa sendirian di rumah, ditinggal suami, sementara dia harus menghadapi anak. Selain itu, tanggung jawabnya juga menjadi jauh lebih berat karena harus mengurus suami dan anak sekaligus,” Ayub menambahkan.

Vira termasuk sebagai orang yang sempat stres dengan transisi ini. “Saat itu anak saya masih kecil. Ditambah lagi pembantu saya tiba-tiba memutuskan untuk berhenti. Mau tidak mau saya harus mengurus semua. Rambut saya sampai rontok karena stres,” keluhnya.

Sisi keuangan juga menjadi pertimbangan vital sebelum memutuskan untuk berhenti bekerja. “Saya selalu menyarankan, apabila penghasilan ibu menutup 50 persen kebutuhan keluarga, sebaiknya pertimbangkan lagi masak-masak mengenai keputusan untuk keluar dari kantor,” kata Rina N. Sandy RFA, penasihat keuangan dari Sarosa Consulting Group. Jika kebutuhan keluarga ditutupi pihak ayah dan ibu dengan perbandingan sama rata (50:50), maka sudah dipastikan bahwa penghasilan berkurang setengah jika si ibu berhenti bekerja. “Jika memang ingin tetap berhenti, sebaiknya si ibu mencari penghasilan tambahan.” Lebih jauh Rina mengatakan bahwa posisi keuangan keluarga akan aman jika penghasilan si istri hanya sepertiga atau bahkan seperempat dari penghasilan suami.

Pengaruh Terhadap Anak

Mungkin Anda pernah mendengar tentang suatu pendapat yang menyebutkan bahwa anak yang kedua orang tuanya bekerja akan tumbuh menjadi sosok yang lebih mandiri dibandingkan dengan yang tidak. Tanpa bermaksud untuk membantah pendapat ini, Ayub mengingatkan bahwa meskipun hal ini benar, tapi tidaklah menjadi jaminan.

Dalam beberapa kasus, memang ada anak yang menjadi mandiri karena ibunya bekerja. Tapi kemandirian yang dia capai berasal dari suatu proses trial and error. “Sesungguhnya, si anak limbung karena ibu yang menjadi tempat dia bergantung hanya punya sedikit waktu untuk berinteraksi dengannya. Akhirnya, si anak belajar dari pengalamannya sendiri dan lambat laun menjadi mandiri,” begitu penjelasan Ayub.

Sementara itu, anak yang diasuh oleh ibu yang berprofesi sebagai ibu rumah tangga juga belum tentu menjadi sosok yang manja. Ayub dengan bangga mencontohkan kesuksesan ketiga putrinya yang diasuh penuh oleh istrinya yang seorang ibu rumah tangga total. “Pada dasarnya, orang yang mengendalikan rumah tangga adalah perempuan, bukan laki-laki. Mandiri tidaknya seorang anak lebih dipengaruhi oleh bagaimana si ibu menjalankan perannya, dan ini tidak ada hubungannya dengan profesi, entah itu di kantor, atau sebagai ibu,” Ayub menegaskan.

Sama-sama Menguntungkan

Dihadapkan pada dua pilihan besar memang tidaklah menyenangkan. Terlebih ketika kedua pilihan tersebut dirasakan sama-sama signifikan, baik untuk Anda, maupun masa depan keluarga. Pada dasarnya, masing-masing pilihan tentu memiliki sisi plus minus dan tidak berefek sama pada kasus per kasus. Semua kembali kepada situasi dan kondisi Anda maupun rumah tangga yang sedang dijalani. Namun yang perlu diingat, kedua pilihan ini sama-sama memiliki keuntungan.

Ibu bekerja yang memutuskan untuk berhenti mungkin akan cemas dengan lingkup pergaulannya kelak, atau juga dengan laju inflasi yang terkadang tak bisa diprediksi. Tetapi tengoklah keuntungan besar yang bisa Anda raih apabila menjadi ibu rumah tangga. Dengan mengasuh anak tanpa bantuan orang lain, Anda punya kendali besar dalam tumbuh kembang anak hingga dia dewasa nanti. Andalah yang akan mentransfer ilmu berupa pendidikan usia dini, penanaman nilai yang dianut keluarga serta kematangan emosional ke diri anak.

Jika khawatir dengan lingkungan pergaulan yang menyempit, tetaplah tenang dan optimistis. Karena pada dasarnya, lingkungan pergaulan bisa dicari atau dibentuk sendiri. Beberapa cara yang dapat Anda lakukan adalah:

  • Pertahankan teman-teman lama. Jika perlu, luangkan waktu sekali seminggu atau sekali dua minggu untuk bertemu dengan mereka.
  • Bergabung dengan kelompok-kelompok tertentu. Di zaman modern sekarang, tidaklah sulit untuk mencari klub atau kelompok berdasarkan hobi tertentu. Carilah klub tersebut melalui internet lalu bergabunglah di mailing list mereka. Atau, Anda juga bisa sedikit menyibukkan diri dengan aktif di sekolah, lingkungan tempat tinggal, ataupun kegiatan sosial yang umumnya diselenggarakan di rumah-rumah ibadah.
  • Mencari pekerjaan tambahan. Pada dasarnya, ada banyak pekerjaan yang bisa dilakukan di rumah. Menerjemahkan buku, membuat transkrip, menjahit, membuka catering, bergabung dengan MLM hanyalah sejumlah kecil pekerjaan yang bisa dilakukan seorang ibu rumah tangga. Dengan demikian, Anda tetap bisa berkarya dan memunyai penghasilan sendiri.

Sementara ibu yang tetap bekerja umumnya khawatir dengan perkembangan anaknya kelak, terlebih karena dia memiliki waktu yang lebih sedikit untuk berinteraksi dengan sang buah hati. Memang menyewa babysitter adalah hal yang paling mudah. Tapi itu tetap bukan satu-satunya pilihan. Karena Anda bisa memercayakan tumbuh kembang anak dengan:

  • Melibatkan keluarga. “Entah itu orang tua sendiri, saudara kandung, ipar, ataupun mertua, yang pasti tidak perlu ragu untuk meminta bantuan keluarga,” saran Diba, 34 tahun, seorang ibu rumah tangga. Ibu dari seorang putra berusia 4,5 tahun ini memberi alasan bahwa keluarga adalah pihak yang lebih bisa dipercaya dalam hal pengasuhan anak, bahkan lebih dari babysitter.
  • Menitipkan ke daycare. Daycare bisa dijadikan sebagai salah satu pilihan, khususnya bagi orang tua bekerja. Karena di daycare, anak tidak hanya disediakan tempat beristirahat maupun makan, tapi juga aktivitas lain seperti bermain ataupun belajar seni dan olahraga. Carilah daycare yang tempatnya strategis dan mudah dijangkau, baik dari arah rumah ataupun dari kantor Anda.

Sumber: http://parentsindonesia.com

Leave a Reply