Kebebasan (Dan Tanggung Jawab) Dalam Kerangka Kerja

130112712

Bayangkan seorang Kapten Kapal pesiar mewah Oasis. Dia duduk dalam ruang kontrol yang berada di anjungan paling tinggi, di depan sebelah kanannya ada juru mudi, di depan sebelah kirinya ada kepala navigasi, dan di belakangnya ada kepala mesin dan awak-awak lainya.  Mengendalikan mesin seharga USD 1,4 Milyard sebuah.

OASIS CRUISE

Ketika para penumpang sudah menaiki kapal, lengkap dengan berbagai keperluanya serta logistik yang diperlukan selama perjalanan siar yang mewah selama 6 minggu kedepan. Kapal mulai meniupkan sirena tanda pelayaran segera dimulai.

Seluruh awak kabin kapal membantu semua penumpang untuk melakukan pilihan kegiatanya, Beristirahat dikamar, atau bercakap-cakap di resotaran mewah di dalam kapal, dan sebagian memilih berdiri di pinggir kapal samabil melambaikan tanggan kepada pengatar yang berada di pelabuahan.  Sang kapten dengan awak yang terkait mulai meneliti daftar periksa sebelum pelayaran tersebut dilakukan.  Tahap demi tahap secara teratur, dan sistimatis diperiksa sesuai dengan prosedur yang dipersyaratkan.

Setelah siap untuk berlayar, sang kapten mulai melakukan koordinasi dengan syahbandar, mengikuti semua instruksi dengan cermat – arah mana yang harus diambil pemandu pelabuhan untuk keluar, jalur yang dipilih karena tidak semua alur dapat dilalui oleh kapal yang berbobot mati 220 GT.  Setelah dilaut lepas dia terus menerus bersama dengan awaknya melakukan komunikasi dengan pengendali lalu lintas laut terutama di alur-alur laut lintas internasional, dan menjaga kapal pesiar tersebut tetap berada dalam batas-batas yang ketat seuai dengan standard dan prosedur lalu lintas laut internasional.

Akan tetapi, dalam perjalanan kapal pesiar tersebut mengarungi samudra luas dengan gelombang yang bermacam-macam bahkan badai-badai laut yang siap menghadang.   Angin kencang bertiup, arah tidak menentu bahkan badai laut hebat bisa saja terjadi dan sulit diperkirakan sepenuhnya.  Berbagai instrumen yang ada harus diperhatikan, posisi, kecepatan, cuaca, mesin-mesin penggerak, kelistrikan dan berbagai indikator penting lainya.

Terkadang juga harus melihat keluar jendela untuk memastikan keadaan.  Walau dengan bobot raksasanya, tetap saja sang Kapten dan awaknya harus sigap untuk melakukan manuver yang diperlukan untuk memastikan keselamatan pelayaran dan kenyamanan para penumpang.  Sampai di tenggah samudra pasifik yang luas, cuaca buruk dengan badai laut yang sangat kuat, penumpang tidak dapat melihat jelas keluar, semua kabur dan hanya awan gelap kelabu dengan hujan badai menerpa jendela.  Awak kapal mengumumkan, “ibu-ibu dan bapak-bapak, kita diminta untuk tenang saja dan silahkan melanjutkan kegiatan anda masing-masing”.

Saat kapal raksasa tersebut terasa bergoyang oleh gelombang laut samudra, mengonjang semua yang berada di kapal.  Penumpang yang kurang pengalaman bisa jadi merasa ngeri oleh terpaan gelombang dan sesekali terlihat pancaran kilat diluar sana.  Tetapi penumpang yang berpengalaman tetap saja melanjutkan kegiatan, bercakap-cakap dengan yang lain, dan dengan enteng berkata “ Saya pernah mengalami keadaan yang seperti ini” dan kapten serta awaknya akan mengendalikan kapal ini dengan baik dan pelayaran ini akan aman-aman saja.

Sekarang kita mundur selangkah dan merenungkan cerita ini.  Kapten kapal dan awaknya bekerja dalam sistim yang amat ketat, dan dia tidak akan mempunyai kebebasan untuk keluar dan sistim dan protokoler keselamatan maritim.   (Apabila Anda menjadi salah satu penumpang kapal tersebut, tentu tidak inggin kapten kapal tersebut berkata, “hai, saya baru membaca dalam buku manajemen mutahir mengenai kebebasan untuk melakukan percobaan, untuk kreatip untuk mencoba banyak hal yang baik termasuk melakukan hal-hal yang dilarang oleh protokol keselamatan maritim international).   Tentu tidak bukan.

Namun demikian, bersandar kepada aturan-aturan protokoler ketet tersebut pada waktu yang sama, keputusan yang amat penting, – kapan mulai berlayar, apakah menggunakan kekuatan enginee secara penuh, apakah menghentikan sesuatu, apakah akan berlabuh di tempat lain – tergantung kepada sang kapten, dia bertanggung jawab atas keselamatan seluruh penumpang dan awak serta kapal mewah yang di nahkodainya.  Berbagai prosedur ketat harus dipenuhi, tapi pilihan yang diambil tetap terbuka sesuai dengan protokol yang telah ditetuntukan.  Disiplin dengan kebebasan untuk bertindak.

Pelajaran penting disini adalah perusahaan harus mempunyai sistim ketat dan jelas seperti sistim lalu lintas maritim.  Pelayanan kepada pelanggan di perusahaan pelayaran mungkin menjengkelkan, tatapi Anda hampir pasti sampai tujuan dengan selamat.  Analogi dari cerita diatas adalah pada bagian paling menarik dari model kapten kapal: kebebasan dan tanggung jawab dalam kerangka sistim yang dikembangkan dengan baik serta efektip.

Dari satu sudut pandang yang inggin disampaikan dalam buku ini, yaitu menciptakan budaya disiplin, pembahasan dimulai dengan orang yang disiplin.  Lebih dari sekedar mendisiplin orang-orang yang keliru  (dan ini memerkukan upaya yang besar) tetapi dengan menempatkan (memilih dan merekrut) orang dengan disiplin diri yang kuat dalam barisan Anda, sebagai langkah awal.  Berikutnya Anda harusnya mempunyai pikiran yang disiplin untuk menghadapi kenyataan bisnis yang berubah sangat cepat dan drastis.  Disiplin menghadapi perubahan, permasalahan, rintangan dan hambatan yang terjadi dengan membangun komitmen bersama melalui 2 pendekatan – top down dan bottom up.   Akhirnya, Anda dan tim harus mempunyai tindakan disiplin, karena tindakalah yang memastikan Anda dan tim mencapai goals yang telah ditetapkan.  Mengindentifikasi mana goals terpenting yang mutlak harus tercapai, mana tindakan penting dan mana yang tidak penting bahkan tidak perlu dilakukan.  Tindakan disiplin tanpa orang yang mempunyai disiplin diri tidak mungkin dipertanahankan, dan tindakan disiplin tanpa pemikiran yang disiplin adalah formula menuju kehancuran.

Organisasi dengan budaya disiplin unggul menyusun sistim yang konsisten dengan hambatan yang jelas, tetapi mereka juga memberikan kebebasan dan tanggung jawab dalam kerangka sistim tersebut.   Mereka mempekerjakan orang dengan disiplin tinggi yang tidak perlu diawasi dengan ketat, dan kemudian mengawasi sistim, bukan orangnya.

Oleh: Drs. Jack Alenzo, MH, MM

Leave a Reply