Kerja Virtual, Mengapa Tidak?

169267374

foto: gettyimages.com

Bagi para pekerja yang berkantor di Jakarta, bisa mencapai tempat kerja dalam waktu setengah jam menjadi hal yang semakin “luar biasa”. Begitu meratanya kemacetan menjadikan kita terbiasa dengan satu atau dua jam (bahkan lebih) untuk sampai ke tempat kerja. Ini tentu melelahkan, baik fisik dan emosi.

Di banyak negara maju, sejak beberapa dekade lalu, semakin banyak perusahaan menerapkan pengaturan waktu kerja jarak jauh ataupun waktu kerja fleksibel. Mungkinkah kita berdiam diri dan tidak memikirkan alternatif lain dalam pengaturan tempat dan waktu kerja? Mengapa masih banyak perusahaan yang ragu untuk menerapkan kerja jarak jauh ini? Pertimbangan apa yang perlu kita pikirkan dan matangkan?

Sebuah perusahaan telekomunikasi terkemuka, mengupayakan percobaan bekerja dari rumah. Alasan pimpinan perusahaan adalah bahwa di kantor pun hubungan sudah banyak menggunakan intranet, sementara banyak kemudahan yang bisa didapat bila kita bisa membudayakan “work from home” ini. Seperti banyak orang yang mengatakan: “Kita sudah bisa meninggalkan kerja dengan baju seragam ataupun  setelan jas, dan sebaliknya, bisa kerja produktif dengan kaos oblong, bahkan piyama dan daster.”

Kemudahan laptop, Ipad, kekuatan broadband dan kemajuan perangkat lunak untuk bekerja, membuat kita betul-betul merasa bahwa datang ke kantor bisa dialternatifkan dengan bekerja di rumah saja. “Toh, ke kantor mengetik mengetik juga”. Kita lihat bahwa jenis pekerjaan yang tidak menuntut tatap muka yang intensif memiliki peluang untuk bisa dilakukan secara fleksibel dan virtual, bukan? Namun, apa yang perlu dipikirkan terkait dampak dari penerapan kerja virtual ini?

Sebaliknya, sebuah perusahaan yang nampaknya sangat global, selalu terdepan dalam pemilihan produk dan pembelian perangkat kerja di kantor, merasa belum bisa beranjak dari cara kerja “tradisional”, yaitu absensi ketat, nametag harus terpasang, dan dresscode sesuai dengan peraturan. Derap kerja dan spirit untuk berprestasi terasa ketika jam kerja dimulai, sampai berakhir di sore hari.

Kita memang jadi lebih mudah memantau pergerakan, bisa lebih kuat dalam komunikasi tatap muka saat ada masalah. Namun, sampai kapan kita bisa mengabaikan kebutuhan para orangtua untuk bisa lebih memperhatikan pendidikan anak? Bagaimana dengan kebutuhan para customer service dan barisan sales untuk menjangkau tempat pelanggan tanpa mondar mandir menceklok mesin absen dan berdisiplin waktu? Bisakah kita menjamin happiness dan engagement individu bila kebutuhan pribadi, fisik, dan emosinya, sulit terpenuhi?

Kendalikan efektivitas kinerja

Di sebuah perusahaan yang sudah lama menerapkan fleksibilitas kerja, para karyawan ternyata memang merasa lebih happy karena mereka bisa mengerjakan banyak hal sambil bekerja di rumah. Seorang karyawan mengatakan bahwa ia bisa mengantar jemput anak-anak dan bisa bekerja intensif di sela waktu tersebut. Individu lain menceriterakan tentang quality time yang didapatkan dari kebersamaan dengan balitanya, di samping penghematan enerji bahan bakar, tenaga modar-mandir dan emosi kalau menghadapi kemacetan lalu lintas. Kita lihat bahwa ada “win-win” solution, baik bagi perusahaan maupun karyawan dengan penerapan kerja virtual.

Seorang pimpinan perusahaan yang berani keluar dari perangkap gaya kerja ini mengatakan, bahwa yang paling penting adalah kekuatan pengukuran kinerja yang diukur dari setiap karyawan. Untuk melepas keseragaman dan disiplin kerja, kita perlu mempunyai kekuatan pengukuran kinerja yang bukan hanya berorientasi pada hasil akhir saja tetapi juga menjamin  berjalannya coaching, pengembangan sistem, pencanangan prioritas dan manajemen waktu. Perubahan gaya kerja bisa dibuat step by step dengan menerapkan pengukuran kinerja alternatif di luar kedisiplinan dan kehadiran fisik. Baru nanti, setelah setiap karyawan terbiasa untuk mengukur kinerja gaya baru ini, perusahaan bisa beranjak ke gaya kerja yang lebih virtual.

Bahaya alienasi
Salah satu musuh terbesar dari bekerja online adalah komunikasi. Kita bisa berkomunikasi dengan cara conference, menggunakan grup, audiovisual, namun kita akui bahwa feel kebersamaan pasti berkurang. Hubungan online, tetap hanya mentransfer hal-hal yang “kering” saja, seperti data, informasi, laporan, walaupun sudah dibumbui dengan emoticon yang beraneka ragam dan warna.

Seorang teman yang pernah mengalami suasana kerja online saat ditempatkan di negara lain, mengatakan setiap hari yang ia hadapi adalah punggung teman kerja. Saat menyalakan komputer, ia akan segera memulai komunikasinya melalui sistem messenger dengan teman kerjanya di belahan dunia lain. Ia yakin bahwa teman yang memunggunginya juga melakukan hal yang sama. Ini tanda bahwa kebutuhan komunikasi sebetulnya sangat kuat dan perlu diakomodir, sehingga sistem untuk menjaga komunikasi senantiasa harus dibangun dan dievaluasi.

Walaupun perusahaan perusahaan besar seperti Apple dan Cisco sudah melaksanakan pelatihan salesmanship  secara full online dengan mengupayakan  agar imajinasi para peserta pelatihan benar-benar riil seperti dibuatnya gerbang ruang pelatihan ketika baru memasuki situs pelatihan, menyajikan rekaman-rekaman seolah-olah kita berada di ruang auditorium,  mendengarkan para pakar melakukan webinar, bahkan disediakan pula chat room bagi para peserta sebagai ajang networking, namun hampir semua ahli mengatakan “You can’t replace face to face situations”. Kita tidak bisa mentransfer motivasi dan inspirasi seratus persen. Kita tetap harus memikirkan bahaya alienasi bila seseorang sudah mulai meninggalkan suasana kantor.

Menghidupkan kualitas tatap muka
Banjir gadget akhir-akhir ini sangat bisa membuat kita terjebak  menjadi korban teknologi. Kita bisa kehilangan kedalaman cara pikir, kekuatan berfokus dan berkonsentrasi pada hal yang sedang kita tekuni. Baru ingin berkonsentrasi, ada pesan muncul di sistem messenger kita, belum lagi bila ada anggota grup mengirimkan pesan bersamaan dengan panggilan untuk berkomunikasi audiovisual dengan orang lain. “Cognitive load “ yang menghujani reservoir ingatan kita yang ada batasnya, sering menyebabkan kita lupa dan tidak tanggap terhadap persoalan yang muncul.

Manusia adalah mahluk paling canggih di dunia ini. Manusia justru menjadi hebat karena kapasitas refleksi, berkreasi, berempati, berhatinurani, dan bahkan bisa menjangkau meta-qualities yang tidak bisa dijangkau mesin manapun. Satu- satunya sikap yang harus kita pelihara, di tengah kebutuhan kerja virtual, adalah dengan tetap menghargai dan menghidupkan kualitas tatap muka kita, di mana kedalaman “rasa” tetap terjaga, sambil kita mengambil manfaat sebanyak-banyaknya dari kehidupan online.

Sumber: kompas.com

Leave a Reply