Memahami Bisnis

bisnisSalam semangat senin pagi,

Dalam salah satu sesi sharing tentang “membumikan” KPI yang saya pandu beberapa hari yang lalu, tantangan bagi praktisi HR adalah bagaimana menjadi partner bisnis handal sehingga dapat menerjemahkan kebutuhan-kebutuhan strategik organisasi kedalam fungsi, sistim dan praktek-praktek HR yang mumpuni.

Kenyataaan yang saya temui dalam sesi sharing tersebut, banyak sentilan dan bahkan pengakuan jujur dari para peserta bahwa mereka jarang diajak berdiskusi dan diajak berbicara oleh top manajemen tentang bisnis, karena orang HR dianggap tidak mengerti bahasa bisnis.

Penyebabnya sangat beragam, mulai dari CEO yang kurang memahami atau menganggap penting aspek human capital bagi kesuksesan organisasi hingga kesalahan orang-orang HR sendiri yang tidak pernah berusaha menjadi atau menjalankan perannya layaknya pebisnis dalam menjalankan fungsi dan perannya di perusahaan. Dalam hal penyusunan KPI sendiri sebenarnya upaya melakukan penurunan target, penyelarasan dan menentukan dan memilih target, melakukan penyelarasan dan penentuan besaran target jelas memerlukan pemahaman bisnis yang baik.

Mengerti tentang bisnis perusahaan sebenarnya mutlak diperlukan tidak hanya untuk penyusunan KPI atau “performance management system”, akan tetapi juga untuk semua kegiatan dan fungsi HR lainya seperti pengupahan, kompetensi, training and development dsb. Pertanyaannya adalah bagaimana??

Memikirkan jawaban dari pertanyaan tersebut , saya jadi ingat nasehat bos saya dulu ketika masih bekerja di sebuah perusahaan. Menurut bos saya tersebut, “ kalo mengerti bisnis ada bebarapa hal yang kita harus tahu secara persis dalam organisasi (termasuk juga di organisasi pemerintahan malah), yaitu melihat dari mana uang datang dan kemana uang keluar”.

Aliran Cash (aliran uang masuk dan keluar – mulai dari mana uang datang, lalu dirubah dengan membeli raw material, modal, mesin dsb, yang kemudian rubah kedalam proses kerja yang ada sampai menjadi barang jadi, kemudian dijual sampai dapat profit). Ini harus dimengerti baik, karena tanpa pemahaman dari pintu mana uang datang sama juga membangun organisasi untuk gagal, tak kecuali di pemerintahan. Ketika uang keluar lebih besar dari uang masuk maka organisasi akan melambat bahkan mati, cepat atau lambat. Banyak perusahaan-perusahan yang sudah ternama bahkan, yang kemudian bangkrut karena aliran uang terhambat, apalagi sampai macet.

Menurut Ram Charan, untuk dapat mengerti tentang bisnis ada 5 hal yang harus diperhatikan:

1. Cash generation : dari mana uang datang dan bagaimana ditingkatkan nilainya. Uang datang adalah wujud kepercayaan orang luar organisasi terhadap produk atau service yang diberikan oleh perusahaan. Baik dalam organisasi bisnis, juga di pemerintahaan, uang datang adalah asal muasal kegiatan dilakukan. Pertama uang datang dari pemegang saham kita, dia percaya uang di investasikan utuk mendapatkan margin lebih besar daripada jika uang tersebut hanya ditaruh di bank. Sehingga apa yang menjadi perhatian dan konsen dari pemegang saham harus juga menjadi perhatian kita sebagai praktisi HR. Selanjutnya uang yang masuk, dibelanjakan kedalam berbagai barang modal dan raw material. Ketika kita membeli raw material seharga Rp.100 juta, bisa saja harga raw material tersebut sebenarnya hanya adalah Rp. 80 juta, karena ada margin supplier disana. Raw material yang kita beli tersebut kemudian kita oleh menjadi barang jadi dan harus laku dijual katakanlah Rp.150 juta. Sehingga cash generation harus kita pastikan dengan efektif, cepat dan efisien dengan 5 tepat: material yang tepat, metoda yang tepat, proses yang tepat, alat yang tepat dan orang tepat.

2. Margin (besaran keutungan : revenue – cost dengan meminimalisir asset). Dalam pemerintahan pun hal ini juga menjadi penting. Pajak dan pendapatan negara yang dipungut dan diperoleh, lalu dikurangi dengan biaya penyelanggaraan negara termasuk belanja pegawai, yang kemudian dipergunakan untuk pembangunan dan kesejahteraan rakyat, dan efektifitas kegiatan ini akan menentukan seberapa baik mereka melakukan pengelolaan. Jangan besar pasak dari tiang.

3. Velocity (kecepatannya, termasuk tidak boleh salah beli, salah buat, reject, rework dsb yang hanya membuat uang kas yg dibelikan material menjadi macet dan berubah menjadi asset nyangsang. Proses harus lancar dan cepat. Intinya productivity

4. Growth : dari mana pertumbuhan usaha akan diraih : repeat order saja (existing customer, new market atau new segment, atau new business dsb. Ingat perusahaan harus bertumbuh karena beban biaya terus naik. Mulai kenaikan umk, bbm, listrik, inflasi dsb

5. Customer : siapa pelanggan atau calon pelanggan kita. memahami pelanggan adalah kunci dari bisnis. Apa value proposition yang mereka harapkan, mengapa mereka membeli atau tidak membeli produk tsb dari kita, dan seterusnya.

Ke lima hal tersebut lalu diformulasikan kedalam 3 hal yang harus kita ketahui:
1. Apa / bagaimana “money making model” di organisasi / perusahaan kita
2. Apa kontribusi yang tim kita bisa berikan ke dalam “money making model” tersebut
3. dan, apakah semua anggota organisasi sudah mengetahui dan memahami jawaban dari kedua pertanyaan diatas.

Tentu lebih lanjut untuk memahami bisnis yang kita semua orang HR harus terjun langsung dan kemudian menerjemahkan kebutuhan bisnis tsb diatas kedalam fungsi dan praktek HR yang sesuai dengan kondisi organisasi. Siapa yang harus direkrut, ditugaskan, dipromosi, dikembangkan, dibina, sampai yg harus dikeluarkan.

Bisnis saat ini telah berkembang ke dalam pengertian yang lebih luas dengan kondisi kompetisi yang demikian ketat, tentu menuntut para praktisi yang semakin tajam dan dalam memahaminya, namun prinsip-prinsip diatas relevan dalam berbagai keadaan.

 

 

Leave a Reply