Membangun Kepercayaan Karyawan

165667384

foto: gettyimages.com

Pernahkah kita merasa diisolasi oleh orang lain? Bahkan pernah dicemoohkan? Lalu timbul perselisihan yang tak mudah dihindari? Tak perlu dijawab tuntas. Karena pasti jawabannya berkisar pernah dan tidak pernah. Pernah pun bisa dibagi lagi menjadi sangat kerap, kerap hingga sangat jarang. Semua itu karena kurangnya saling percaya di antara karyawan dan karyawan dengan manajer. Dengan kata lain kerap disebut dengan sifat hipokrit. Dalam dunia kerja saling membangun kepercayaan sangatlah penting. Tidak mungkin suatu pekerjaan yang dikerjakan secara terkoordinasi akan menghasilkan capaian yang terbaik kalau di antara karyawan dan juga manajer tidak ada saling percaya dan saling curiga. Karena itu kepercayaan harus dibangun seperti yang dikatakan Stephen Covey “Trust can not develop in the absence of trustworthiness”.

Kepercayaan yang sangat menentukan keberhasilan koordinasi suatu pekerjaan adalah datang dari seorang pimpinan unit pada karyawannya. Atau sebaliknya kepercayaan karyawan terhadap pimpinannya. Kepercayaan mudah sekali rapuh. Kalau sudah demikian sulit sekali direkat. Sekalipun ada aturan bagaimana membangun kepercayaan. Yang jauh lebih berperan adalah bagaimana membangun budaya, sistem nilai, norma dan integritas pribadi. Kepercayaan sekaligus kredibilitas seseorang akan timbul dengan sendirinya. Karyawan akan percaya pada pimpinannya sejauh pimpinan memiliki kejujuran, keterbukaan, kompeten, dan mampu menjadi sumber inspirasi para karyawannya. Bahkan karyawan akan percaya pada kredibilitas pimpinannya kalau sang pimpinan konsisten menghargai hak dan minat terbaik para karyawannya.

Menurut Robbins et al. dalam bukunya berjudul “Management” (2000), para peneliti telah menemukan lima komponen dari suatu kepercayaan karyawan terhadap pimpinannya. Yang pertama adalah integritas berupa kejujuran dan nilai kebenaran sang pimpinannya. Yang kedua adalah kompeten dimana sang pimpinan memiliki pengetahuan dan ketrampilan teknis dan hubungan antarpersonal. Yang ketiga konsistensi yakni dapat diandalkan, kemampuan memrediksi, dan mengatasi setiap persoalan. Yang keempat adalah kesetiaan dimana sang pimpinan memiliki kehendak kuat melindungi dan menjaga karyawannya. Sementara yang terahir adalah keterbukaan dimana pimpinan tidak segan berbagi gagasan dan informasi dengan bebasnya.

Bagaimana membangun kepercayaan karyawan? Tidaklah semudah membalik tangan. Mengapa demikian? Karena kepercayaan berkaitan dengan sifat yang tampaknya sederhana yakni kebohongan. Sekali saja seseorang bohong maka orang lain tidak mudah percaya lagi. Lalu ada stigma negatif sebagai pembohong. Karena itu kepercayaan tidak mudah dibangun. Ia membutuhkan waktu relatif lama sementara hanya beberapa detik saja kepercayaan bisa cepat rusak. Dengan kata lain kepercayaan seseorang bersifat sangat peka. Disinilah bagaimana peran pimpinan unit sangat penting dalam membangun kepercayaan.

Pimpinan unit berperan sebagai seorang pemimpin di unitnya. Sekaligus dia sebagai supervisor, konselor, dan manajer. Dia harus peka dan responsif terhadap apa yang dikehendaki karyawannya sejauh itu baik buat organisasi. Para karyawan akan memercayai kredibiltas pimpinannya kalau saja sang pimpinan mau menjadi pendengar yang baik. Dia harus selalu siap ketika karyawan akan berkonsultasi masalah apapun dengannya. Siap membuka pintu kantornya buat mendengar segala keluhan karyawan. Lalu ditindaklanjuti dalam bentuk tindakan nyata. Sejauh mungkin hindari banyak janji pada karyawan. Sebab kalau tidak bisa terujud maka para karyawan sulit untuk percaya pada pimpinan.

Sumber: http://ronawajah.wordpress.com

Leave a Reply