Mengapa Karyawan Sulit Untuk Saling Melayani?

Foto: Gettyimages.com

Foto: Gettyimages.com

Seberapa sering kita mendengar karyawan mengeluhkan teman-teman sekantornya? Mereka sering makan siang bersama, tapi kalau soal kerjaan saling menyalahkan. Setiap bagian merasa diri lebih penting dan bagian lain tidak memahami sulitnya pekerjaan mereka.

“Orang Finance memang rese, selalu bilang tidak bisa, padahal ini urgent”

“Payah juga  bagian pengadaan, masa barang yang gua minta dibilang masih kosong padahal gua mintanya udah lama, dia sih gak pernah diomelin customer. Lah gua………”

Seberapa sering kita mendengar karyawan mengeluhkan teman-teman sekantornya? Mereka sering makan siang bersama, tapi kalau soal kerjaan saling menyalahkan. Setiap bagian merasa diri lebih penting dan bagian lain tidak memahami sulitnya pekerjaan mereka. Hal tersebut di atas bukan hanya terjadi pada karyawan antarbagian, tapi juga termasuk karyawan yang berada di bagian yang sama. Suasana kerja menjadi tidak menyenangkan dan atasan pun direpotkan dengan hal-hal nonteknis. Waktu bekerja yang seharusnya digunakan untuk memikirkan pekerjaan tersita untuk menyelesaikan masalah-masalah komunikasi sehingga produktivitas menurun.

Mengapa hal tersebut dapat terjadi? Mengapa karyawan cenderung saling menganggap diri penting dan menyalahkan rekan sekerjanya?

Sifat dasar manusia ingin dihargai. Setiap orang membangun harga dirinya dengan beragam pondasi.  Ada yang membangun harga dirinya secara ekstrinsik, yaitu berdasarkan pengakuan orang lain, baik atasan, rekan sekerja, dan bawahan. Karena kondisi eksternal sering berubah, maka harga diri seseorang yang dilandaskan atas sumber eksternal akan bersifat labil. Karena itu, ia akan merasa dirinya terancam apabila orang-orang di sekitarnya menyalahkan dirinya sehingga secara otomatis ia akan membela dirinya agar merasa aman.

Sebaliknya, ada orang yang membangun harga dirinya secara intrinsik, yaitu apa yang pada dasarnya dimiliki oleh dirinya. Apa yang dimiliki oleh manusia di dunia ini? Tidak ada satu pun yang dimiliki, karena semua adalah titipan Tuhan. Satu-satunya yang dimiliki adalah Tuhan Sang Pencipta itu sendiri. Artinya,harga dirinya didasarkan atas penilaian Tuhan. Jika Tuhan menghargai dirinya apa adanya, maka ia pun akan mampu untuk menghargai dirinya sendiri dengan baik.  Karena itu, ia tidak mudah merasa terancam saat ia disalahkan oleh orang-orang di sekitarnya dan tidak mudah menyalahkan orang lain.

Bagaimana ciri-ciri orang yang mampu menghargai dirinya secara benar?

  1. Orang yang sudah mampu menghargai diri sendiri akan mampu untuk menghargai orang lain. Ia akan menghargai setiap orang bukan dari atribut yang dimilikinya, tapi menghargai sebagaimana Sang Pencipta menghargai semua ciptaan.
  2. Seseorang yang dapat menghargai orang lain akan melayani orang lain dengan tulus. Melayani  muncul dari dalam diri karena menghargai orang lain.

Bagaimana dengan karyawan Anda? Jika mereka sulit melayani satu sama lain, maka mungkin Anda harus menolong mereka untuk menghargai diri sendiri terlebih dahulu. Bantulah mereka untuk memiliki harga diri yang sejati, maka niscaya mereka akan mau dan mampu untuk melayani dengan tulus. ;]  (LSC)

Leave a Reply