Retensi Karyawan sebagai Tantangan Anda sebagai Manajer Handal

b98febf979b5a958f47c040b6e729b16Semakin tingginya tingkat Kebutuhan Hidup Layak (KHL) dibeberapa kota dan kabupaten pada akhirnya membuat banyak terjadi demonstrasi di level buruh pabrik khususnya. Walau banyak pula para pengusaha yang mengasumsikan adanya pihak lain yang menunggangi terjadinya demo buruh ini, namun dari sudut pandang yang berbeda, perlu kiranya Anda sebagai pimpinan perusahaan atau organisasi melihat apakah sebenarnya akar permasalahan sehingga setiap tahun, dengan alasan naiknya harga bahan pokok dan tingkat inflasi yang tinggi membuat buruh selalu berdemo.

Demo buruh hanya satu dari sekian banyak cara mereka mempertahankan aktualisasi dan eksistensi. Namun tahukah anda bahwa bentuk lain para profesional dalam mencari tingkat eksistensi yang lebih tinggi adalah dengan mencari peruntungan di tempat atau perusahaan lainnya. Tanpa banyak mengeluh dan berdemo, mereka mencari penyesuaian pada organisasi lain. Namun sangat disayangkan jikalau banyak profesional yang keluar karena ketidaknyamanan atau ketidakmampuan organisasi mengelola aset mereka.

Dewasa ini mobilitas para karyawan semakin meningkat. Beberapa karyawan potensial dengan cepat dapat berpindah dari satu perusahaan ke perusahaan lain. Hal ini tentu saja tidak menguntungkan bagi perusahaan yang ditinggalkan. Bayangkan betapa berat usaha yang harus Anda lakukan jika Anda harus terus menerus melakukan Coaching bagi karyawan baru karena tingginya turn over di perusahaan anda. Apakah hal ini dapat disiasati? Salah seorang rekan yang telah bekerja selama 10 tahun di sebuah perusahaan nasional yang cukup besar akhirnya memutuskan untuk pindah. Ketika saya menanyakan alasannya, ia menjawab, “Sebenarnya aku suka pekerjaannya, kayaknya aku juga bisa berkembang di sana. Tapi aku nggak cocok sama manajerku, dia nggak pernah mau dengerin ide-ideku.” Apakah pernah terpikir bahwa hubungan baik dengan manajer sangat mempengaruhi retensi karyawan di perusahaan anda? Hasil survey Gallup Organization menunjukkan bahwa hal yang paling diinginkan oleh seorang karyawan adalah seorang atasan yang baik!

“If your relationship with your manager is fractured, then no amount of in-chair massaging or company-sponsored dog walking will persuade you to stay and perform. It is better to work for a great manager in an old-fashioned company, than for a terrible manager in a company offering an enlightened, employee-focused culture.”

Jika hubungan dengan manajer tidak baik, maka tidak ada hal lain dari perusahaan tersebut yang dapat membuat anda tetap bekerja dan berprestasi di sana. Lebih baik bekerja dengan manajer yang baik pada sebuah perusahaan “tradisional” daripada bekerja dengan manajer yang buruk, meskipun perusahaan tersebut menawarkan budaya yang menghargai karyawannya.

Dari hasil survei ini, jelaslah bahwa manajer memegang peran penting dalam mempertahankan keberadaan seorang karyawan dalam sebuah perusahaan. Apa yang dapat dilakukan para manajer untuk meningkatkan “kesetiaan” karyawan pada perusahaan?

1. Pilih karyawan berdasarkan bakat yang dimilikinya, bukan hanya berdasarkan pengetahuan dan ketrampilan yang saat ini dimilikinya. Seorang karyawan yang berbakat akan dapat mempelajari ketrampilan-ketrampilan teknis yang dibutuhkan dan bakat yang dimilikinya akan mendorongnya pada unjuk kerja yang lebih excellence. Mungkin hal ini akan mendapat tantangan karena selama ini para rekruter cenderung untuk memilihkan anda karyawan baru yang “sudah berpengalaman”, karena itu anda harus berani tampil beda! Rekrutlah karyawan karena potensi yang dimilikinya berdasarkan bagaimana mereka menggunakan potensi tersebut pada masa lalu.

2. Tentukan hasil yang ingin dicapai, bukan cara untuk mencapainya. Anda telah merekrut orang-orang yang cerdas, berikan kesempatan bagi mereka untuk menunjukkan kemampuannya. Sedikit Instruksi dan Direksi dalam sebuah tugas dan lebih memperluas Hak Delegasi akan memperkuat semangat mereka dalam mencapai kinerja yang diharapkan.

3. Motivasi para karyawan dengan mengembangkan kekuatan dan mengelola kelemahan yang mereka miliki. Jika anda berusaha untuk mengubah mereka maka anda hanya akan menghabiskan waktu dan energi yang sangat berharga untuk hasil yang sudah bisa diramalkan. Bantulah para karyawan untuk menjadi diri mereka sendiri dengan lebih baik, bukan membentuk mereka menjadi sebuah pribadi baru. Bebaskan setiap individu dalam mencapai target dan berikan dorongan serta masukan dalam prosesnya.

4. Kembangkan karyawan anda dengan membantu mereka menemukan kecocokan antara potensi yang mereka miliki dengan tanggung jawab pekerjaan yang dipercayakan pada mereka. Doronglah mereka untuk menghitung dan menganalisa hasil pekerjaan mereka setiap minggu (bukan hanya berdasarkan performance appraisal yang dilaksanakan sekali setahun). Dari hasil analisa ini, lihatlah area-area mana saja yang pada umumnya dapat dikerjakan oleh sang karyawan dengan baik. Berilah kesempatan dan tanggung jawab lebih besar pada area tersebut. Bantu mereka untuk berkembang dengan memberikan pelatihan, mengikutsertakan dalam organisasi-organisasi profesi dan bentuk kegiatan-kegiatan lain yang dapat meningkatkan kemampuan mereka.

5. Jadilah manajer sekaligus sahabat bagi karyawan anda, dan perlakukan setiap orang secara unik sesuai dengan kebutuhannya masing-masing. Manajer bukanlah bos, namun adalah partner atau rekan kerja, sehingga sinergi dan kolaborasi akan tercipta secara alami.

Retensi Karyawan tidak melulu melalui program yang berbau materi, namun ternyata hubungan komunikasi yang dapat dikembangkan dalam sebuah Program Retensi jauh lebih kuat membina dan membangun kesetiaan karyawan.

Sumber: http://ikhtisar.com/

Leave a Reply