Tips Mengatasi Bullying di Tempat Kerja

BullyingTanpa kita sadari, mudah sekali kita memanggil teman sekantor dengan nama-nama sebutan yang tidak pantas. Apalagi jika lingkungan kita melakukan hal yang sama. Anda menyebutnya bersenang-senang, tapi sebenarnya, itu adalah perilaku bullying. Atau lebih tepatnya emotional bullying, yang mana meliputi verbal abuse, perilaku mengancam, intimidasi, dan mempermalukan orang di depan umum.
Menurut sebuah studi Vital Smarts, 96% responden mengaku bahwa mereka pernah mengalami bullying di tempat kerja. 20% di antarnya mengaku butuh waktu lebih dari 7 jam seminggu untuk mengatasinya. Yang berarti, ada jam produktif yang terbuang sia-sia. Jadi, apa yang harus Anda lakukan sebagai pemimpin?

Pemimpin dilarang jadi bully.

Seorang boss yang berperilaku bully akan menginfeksi seluruh kantor. Ia menetapkan contoh bahwa perilaku seperti ini baik-baik saja. Akhirnya, setiap karyawan mulai ikut-ikutan. Setiap orang jadi merasa tidak nyaman, dan lingkungan jadi tidak kondusif.

Diam saja berarti membiarkan.

Selain jadi bully aktif, rupanya diam saja juga berarti membiarkan. Pelaku bully butuh orang lain untuk memberitahu mereka bahwa perilaku mereka salah dan membuat mereka melihat konsekuensi dari tindakan mereka. Atau mereka akan terus-menerus melakukannya.

Mencari tahu akar permasalahan.

Perilaku bully mungkin berasal dari latar belakang lingkungan, namun ia juga bisa datang dari tekanan tempat kerja. Perubahan yang terjadi terus menerus di perusahaan akan mengakibatkan karyawan menjadi stres dan tidak stabil. Apabila stres adalah penyebab perilaku bully, Anda perlu meringankan stres karyawan Anda dengan transparansi penuh. Sampaikan apa-apa saja yang berubah di perusahaan Anda dan seberapa besar mereka akan terkena dampaknya. Kejelasan seperti ini akan membuat karyawan Anda bekerja dengan lebih tenang.

Ada untuk feedback.

Korban bully biasanya tidak akan melapor karena mereka tidak yakin bagaimana perusahaan akan menangani masalah mereka. Anda harus berinisiatif untuk membuka pintu. Karyawan yang diberikan kesempatan untuk berbicara dalam forum akan cenderung melaporkan sebuah masalah sebelum muncul ke permukaan.

Menerapkan kultur anti-bully.

Terapkan sebuah batasan melalui kultur anti-bully. Beritahu bahwa Anda memiliki zero toleranceuntuk perilaku bully. Namun, bukannya dengan menulis larangan untuk mem-bully, melainkan tulis perilaku-perilaku yang ingin Anda lihat di dalam perusahaan Anda. Ketika Anda fokus untuk membangun perilaku yang positif, maka hasilnya pun akan positif.

Sumber: https://id.berita.yahoo.com

Leave a Reply